Siapkan Sembilan Ulama

CILACAP- MUI Kabupaten Cilacap telah menyiapkan sembilan ulama sebagai rohaniwan guna mendampingi tiga terpidana mati Bom Bali I, Amrozi cs, saat menjalani eksekusi.
Menurut H Sahlan Nasir dari MUI Kabupaten Cilacap, selain dirinya delapan nama lainnya adalah KH Hasan A Makarim, H Munasim, H Amir Fattah, H Haryadi, H Askan, H Hisam Mukti, Ustad Afrizal dan H Parlan. Kesembilan ulama itu adalah anggota tim pembinaan rohani Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan. ’’Beberapa waktu lalu kami sudah mengirimkan nama-nama rohaniwan kepada pihak kejaksaan,’’ kata Ketua MUI Kabupaten Cilacap, KH Dzul Bashor SAg. Nama-nama itu diajukan karena pihak kejaksaan meminta rohaniwan pendamping ketiga terpidana saat dieksekusi.

Surat dari kejaksaan terkait permintaan nama-nama rohaniwan kepada MUI itu sudah dilayangkan pekan lalu. ’’Meski kami sudah menyerahkan daftar nama tersebut, namun sampai sekarang belum dihubungi lagi,’’ kata Dzul Bashor.

’’Saya belum mendapat tugas menjadi rohaniwan dan sampai sekarang juga belum dihubungi pihak mana pun,’’ kata Wakil Ketua Bidang Organisasi MUI Cilacap, H Hasan Makarim, yang dikenal sebagai imam dan khatib setiap shalat Jumat di LP Batu.
Jaksa Eksekutor
Dari Jakarta, Kejaksaan Agung telah menunjuk tim jaksa eksekutor dari Kejaksaan Tinggi Jawa dan Bali untuk mengeksekusi tiga terpidana mati kasus Bom Bali I, Amrozi cs.

Menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung M Jasman Panjaitan, jaksa eksekutor merupakan eksekutor yuridis, sedangkan teknis eksekusi dilakukan oleh kepolisian.

Mengenai belum adanya pemberitahuan kepada keluarga ketiga terpidana terkait waktu pelaksanaan eksekusi, Jasman menyatakan perundangan hanya mewajibkan kejaksaan memberitahukan waktu pelaksanaan eksekusi kepada terpidana bukan keluarganya, tiga hari sebelum eksekusi dilaksanakan.
Namun, dia enggan mengungkapkan apakah ketiga terpidana sudah mendapatkan pemberitahuan tersebut. ’’Itu yang tahu petugas di lapangan,’’ kilah Jasman.
Perluas Wilayah Streril
Sementara itu, mulai Selasa (4/11), wilayah steril di Dermaga Wijayapura diperluas. Kalau Senin (3/11) wilayah yang disterilkan sebatas di depan dermaga, diperluas sampai ke pertigaan jalan menuju ke dermaga itu. Semua kendaraan harus diparkir di luar pertigaan jalan itu yang dijaga ketat pasukan brimob bersenjata lengkap.

Semua orang yang masuk ke dermaga diperiksa dengan metal detector. Termasuk keluarga karyawan LP yang menempati rumah dinas di dalam Pulau Nusakambangan, termasuk anak-anak sekolah. Para pengguna jasa penyeberangan di Dermaga Sleko, sekitar tiga kilometer dari Dermaga Wijayapura juga diperiksa, berikut barang bawaannya sebelum naik ke perahu.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cilacap, Drs Dian Setyabudi MM mengatakan semua dermaga penyeberangan dijaga ketat aparat keamanan, terutama dari pasukan brimob. Selain Dermaga Wijayapura, pemeriksaan dilakukan di Dermaga Sleko, Dermaga Kalipanas dan Dermaga Lomanis. ’’Sebelum naik ke perahu, semua penumpang diperiksa petugas dengan metal detector,’’ jelasnya.

Di tengah ketatnya pemeriksaan di seputar dermaga, sejak Senin (3/11) malam, beredar kabar bakal ada massa dari luar daerah masuk Cilacap. Aparat pun melakukan razia besar-besaran di Banyumas dan Cilacap. Polisi mencegat semua kendaraan yang diperkirakan menuju ke Cilacap.

Bahkan di Baturraden, Polres dan Polwil Banyumas menggelar razia malam hari, karena ada informasi sekelompok orang dari wilayah Pantura menuju Cilacap lewat jalan tembus kawasan Baturraden.

Dua razia digelar di Wana Wisata Baturraden dan pintu gerbang. Kendaraan dan penumpang diperiksa, termasuk barang bawaannya. Namun hingga keesokan hari, tak didapati adanya rombongan massa dari luar daerah masuk Cilacap.

Pengamanan ekstraketat wilayah Cilacap membuat warga tidak nyaman. ’’Kalau tidak cepat-cepat kami yang tidak nyaman,’’ kata salah satu warga Cilacap tengah.

Dia dan keluarganya juga para tetangga sering tidak nyaman kalau mau ke luar rumah saat ini. Pakai kendaraan takut kena razia, ke toserba jadi tidak mood melihat petugas berjaga mau ke pantai apalagi. ’’Pokoknya rasanya tidak nyaman terkait dengan ketatnya penjagaan saat ini,’’ kata dia.

Bagi warga luar Cilacap atau dunia, eksekusi Amrozi cs menjadi berita menarik, namun bagi sebagian besar warga Cilacap, ketatnya pengamanan merupakan kekangan bagi kehidupan sehari-hari. ’’Ini sudah lebih dari seminggu penjagaan ada di mana-mana. Sampai kapan ketidaknyamanan ini harus kami rasakan?’’ tanya dia.
Ancaman Bom
Sementara itu, Kedutaan Besar Australia, Selasa pagi (4/11), mendapat ancaman bom melalui SMS. Merespons ancaman itu, tim Detasemen Khusus 88 Polda Metro Jaya menyisir area depan pagar Kedutaan Besar Australia, Jl HR Rasuna Said Kuningan Jaksel. ”Tapi Densus tidak diperkenankan masuk ke dalam pagar, mereka hanya menyisir di luar pagar,” ujar salah seorang anggota Brimob, Selasa (4/11).

Penyisiran berlangsung 30 menit melibatkan sekitar 12 personel anggota Densus 88. Namun dari hasil penyisiran, tidak ditemukan apapun. Petugas itu membenarkan ancaman bom yang diterima Kedubes Australia. Pihaknya mengaku sudah memperoleh informasi tentang adanya SMS ancaman itu sejak pukul 07.00. Pihak kedutaan langsung memintanya untuk menyisir lokasi.
”Untuk penyisiran di dalam, menurut mereka itu tanggung jawab pihak kedutaan, dan itu sudah teritorial kedaulatan Australia. Jadi ya kita tidak bisa apa-apa,” lanjut petugas.

Selain itu, ancaman bom di Gedung FX, dulu dikenal Sudirman Place, Senayan, Jakarta Pusat tidak terbukti. Petugas keamanan dan tim Gegana Polda Metro Jaya tidak menemukan benda mencurigakan.

Sekitar pukul 19.45 petugas Gegana meninggalkan lokasi. Sebelumnya, sekitar lima orang dengan menggunakan peralatan, melakukan penyisiran ke sejumlah titik.

Menurut petugas keamanan setempat, Wardiman, ancaman diketahui datang melalui telepon sekitar pukul 15.00. ”Seorang lelaki menelepon katanya ada bom ditaruh di suatu tempat,” katanya. (Suara Merdeka J21,G21,ag,G23,P16,H47,ant-77)

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.