Pedagang Minta Kembali Jualan di Alun-alun

PURWOKERTO-Paguyuban pedagang kaki lima (PKL) Alun-alun yang tergabung dalam PKL Gotong-Royong Baru didukung 14 paguyuban PKL lain se-Purwokerto, kemarin mengadu, ke Ketua DPRD Suherman. Mereka meminta agar pimpinan DPRD tetap menolak usulan perubahan Perbup tentang Penataan PKL yang diajukan oleh Pemkab.

Khusus untuk PKL alun-alun, mereka juga meminta secara khusus agar lokasi pemindahan di Jl Ragasemangsang ditinjau ulang. Pasalnya, sejak dipindah bulan November lalu, jualan mereka tambah sepi dan jumlah pedagangnya berkurang karena terus merugi.

Puluhan perwakilan PKL tersebut, mendatangi rumah ketua Dewan di Perum Limas Agung. Mereka diterima Suherman, di Pendapa eks DPC PDI-P, yang bersebelahan dengan rumah Suherman.

Dalam pertemuan itu, Seno, koordinator PKL yang mengadu mengungkapkan, 15 paguyuban PKL sepakat untuk tetap menolak rancangan Perbup yang baru terkait penataan PKL, khususnya yang terkena penggusuran atau penataan.

Di antaranya yang berjualan di kawasan alun-alun. Pengaturan jam jualan di sejumlah lokasi, juga minta ditinjau. ‘’Kami minta pimpinan Dewan untuk tidak langsung menyetujui. Namun melakukan koreksi dan penolakan kalau Perbup itu nantinya merugikan kalangan PKL,’’ katanya.

Ny Waris, pedagang alun-alun mengatakan, mereka tetap minta dikembalikan jualan di kawasan publik itu. Selana dipindah, dagangannya tidak laku.
‘’Tolonglah Pak kami dikembalikan lagi ke alun-alun. Kalau begini terus kita tak bisa menyekolahkan anak,’’ keluhnya.

Ny Wari, pedagang lain menambahkan, PKL alun-alun selama dipindah sementara merasa dibohongi oleh jajaran Pemkab. Pasalnya, saat mereka diminta pindah ke Ragasemangsang, Jl Pengadilan lama (timur alun-alun) yang biasa dipakai jualan mau dipakai untuk tempat bahan material yang akan dipakai merenovasi alun-alun.

‘’Tapi nyata apa. Sampai sekarang tidak ada material yang ditaruh di sana. Berarti kami ini dibohongi. Apa mereka tidak merasa kasihan kepada kami ini yang jualan tidak laku,’’ katanya kesal.

Lokasi di Ragasemangsang, lanjut pedagang yang mengaku sudah 10 tahun berjualan di alun-alun, sangat tidak layak. Jalurnya sempit seperti gang senggol. Kalau hujan banjir karena drainasenya jelek dan tampak kumuh.
‘’Kami mohon dikembalikan lagi ke Jl Pengadilan sambil menunggu lokasi baru yang disiapkan,’’ pintanya.

Dalam pertemuan dengan ketua DPRD, PKL juga menyampaikan salinan surat yang ditujukan kepada bupati. Dalam surat No 06/PPKLGB/XII/2008 tertanggal 19 Desember, intinya PKL alun-alun minta dikembalikan lagi ke lokasi semula, sambil menunggu penyiapkan lokasi penataan PKL yang permanen di Jl Kesehatan Pereng.
Terus Merugi
Menurut Ketua PPKLGB, H Soleh, hasil evaluasi selama berjualan di Jl Ragasemangsang, pedagang terus merugi dan jumlah terus berkurang karena sepi pembeli. Dijelaskan, selama jualan di Ragasemangsang (10 November sampai sekarang) pedagang yang semula 86 orang berkurang tinggal 20 orang. Omzet pendapatan juga berkurang drastis. ‘’Misalnya pedagang bakso selama di jualan Jl Pengadilan sehari rata-rata bisa menjual 50 mangkok, sekarang paling sehari 2-3 mangkok,’’ jelasnya.

Kas paguyuban, lanjut Soleh, juga kosong karena anggota tak mampu membayar iuran karena pendapatan yang turun. (Suara Merdeka G22,in-55)

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.